MUSIC

small rss seocips Music MP3
Ayo bro dengerin music ini !!!

Selasa, 29 November 2016

SEJARAH KOTA BANJAR

Asal Usul Kota Banjar Patroman

Kota Banjar Patroman Dulu


Alun-alun kota banjar tempoe doeloe
Alun-alun kota banjar tempoe doeloe
wisatakotabanjar.com - Dalam sebuah cerita tersebutlah satu orang pemuda pengelana yang berasal dari kerajaan Mataram bernama Adananya. Singkat cerita, dalam sebuah perjalanan pengelanaannya, beliau terpikat oleh sesosok perawan (seorang gadis) yang sangat menawan di suatu kampung bernama PatarumanAdananya pun langsung melamar sang gadis perawan tersebut kepada ibunya, tetapi ternyata ibunya tak mengizinkan dikarenakan ia telah mengetahui bahwa Adannya seseorang Raja dari Mataram. Beliau merasa sungkan sebab dia hanyalah rakyat biasa yang tap punya apa-apa. akhirnya sanggadis Perawan menawan tersebut ternyata telah berhasil melarikan diri dari hunian ibunya ke arah sebelah barat. 

Dalam pelariannya, gadis perawan tersebut terjerat areuy (tumbuhan yang merambat ke pohon) di hutan belantara, maka kakinya berdarah.Adananya pun tetap mengejarnya, berusaha mengikuti jejak bercak darah sang gadis perawan yang menempel pada areuy. Pada kala itulah Adananya menamai daerah tersebut dengan nama Cibeureum, sebab karena banyak sejumlah bercak darah yang menempel pada areuy sama seperti air yang berwarna merah.
Dikala Adananya sedang mencari sang gadis perawan, datanglah seseorang pemuda rupawan berniat mempermudahnya. Pemuda rupawan itu juga setelah itu mencegat Adananya di sebuah bukit, yang sekarang disebut Tepung Kanjut (dalam bahasa sunda), yang berarti ruangan bertemunya dua orang lelaki. Berjumpa dalam bahasa Sunda dinamakan tepung serta kelamin lelaki dinamakan kanjut. Di lokasi itu, akhirnya Adannya dan pemuda penolong tersebut bertarung adu kesaktian.
ilustrasi pertaungan
ilustrasi pertarungan 
Dalam pertarungan itu, selanjutnya Adananya menyadari bahwa pemuda penolong tersebut bernama Dalem Tambakbaya atau Raden Singaperbangsa yang bergelar Adipati Kertabumi III. Dia merupakan Raja Galuh Kertabumi yang beribukota di Liung Gunung, yang sekarang telah menjadi nama suatu kampung dikecamatan Manonjaya. Adapun Adananyaadalah seorang ulama penyebar agama Islam dari Mataram yang sebenarnya bernama Kanduruan Pandusaka Sarikusumah yang nanti dipusarakan di situs Pandusaka Batulawang.

Kembali terhadap kisah pertarungan Adananya Dan Tambakbaya. Di dalam pertarungan itu, kesaktian keduanya seimbang. Hasilnya, keduanya serta kembali mencari sang gadis perawan. Sementara, perawan cantik itu berlari secepat kilat ke arah tenggara. Seterusnya dikejar oleh Adananya & Tambakbaya
Tatkala pengejarannya, Adananya & Tambakbaya adu kecepatan berlari dengan kesaktiannya masing-masing. Sampai di sebuah lokasi. Diwaktu Adananya sedang berdiri (bahasa Sunda : ngadeg ), terkejar Oleh Tambakbaya. Sejak itulah tempat tersebut hingga kini dinamakan Pangadegan. Mungkin Saja berasal dari kata pangudagan, yang berarti ruang untuk mencari seseorang (menguber). 

Adapun gadis perawan yang sedang dikejar mereka, sedang beristirahat lantaran kelelahan. Tapi, saat Adananya dapat menangkapnya, Tambakbaya dgn gerak serta-merta langsung menghalaunya. Ke-2 pemuda itupun seterusnya bertarung kembali. Adannya yang mengeluarkan ilmu pamungkasnya, adalah pukulan saketi. Namun, Tambakbaya bisa menghindar dengan cara menghilang menggunakan ajian halimunan. Maka nampaknya "ngan sajorélat" atau cuma sekejap mata. Lokasi menghilangnya sosok Tambakbaya itulah, yang sekarang telah disebut kampong Jélat. Berasal dari kata sajorélat, yg artinya menghilang sekejap mata atau secepat kilat.
Sementara itu, gadis perawan yang telah dikejar oleh Adananya & Tambakbaya konsisten mengejarnya kembalii. Saat Ini perjalanannya mengarah kembali ke hunian ibunya. Tapi sesampainya di sana, ibunya diketahui telah tak ada. Ternyata ibunya pula turut mencari dikala beliau melarikan diri pada kala itu. Dalam pengejarannya, ibunya pernah berjumpa bersama Adananya yang sedang kaget Melihat Tambakbaya menghilang di kampong Jelat.Serta-merta saja ibu sang gadis perawan tersebut bertanya dalam bahasa Jawa ke Adananya. “ 

Mana laré?”, jelasnya terhadap Adananya

Maksudnya menanyakan ke mana arah lari anaknya. 

“Ke sana, ke arah selatan,” timpal Adananya

Ruang dialog antara Adananya dengan ibunya sang perawan tersebut, sekarang ini disebut kampong Mandalaré, berasal dari Mandala laré , pun dari kata kata sang ibu : mana lare. 

Mengapa sang perawan tak terkejar oleh Adananyadan Tambakbaya? Nyata-nyatanya perawan tersebut mempunyai kesaktian yg lebih tinggi. Dirinya sebenarnya bukan anak sang ibu, namun putri dari kerajaan Galuh yg bernama Ni Nursari

“Gadis itu benar-benar lebih sakti dariku,” gumam Adananya. 

Sesudah itu, Adananya pula ngarandeg (berakhir) untuk beristirahat sejenak. Area perhentian itu selanjutnya dinamai kampong Randegan. Sesaat seterusnya, tibalah Tambakbaya yang ikut serta kelelahan. Tidak Sama bersama jumpa pada awal mulanya, sekarang mereka tak bertarung. Dikarenakan tenaga keduanya sama-sama telah terkuras habis. 

Setelah lama Adananya & Tambakbaya beristirahat di kampung Randegan. Sesudah itu, merekapun kembali mengejar Ni Nursari. Sepanjang jalan mereka tetap berkompetisi pernyataan berkaitan Ni Nursariyang sedang dikejarnya. Adananya masihlah berpendirian mau memperistrinya, sedangkan Tambakbaya masihlah mau meringankan Ni Nursari dari paksaan Adananya. Jalan sepanjang Adananya & Tambakbaya beradu pendapat itulah yang sekarang ini dikenal dgn nama kampung Cikadu. Berasal dari kata papaduan, Yg berarti berselisih pernyataan/pendapat. 

Sementara itu, Ni Nursari lari ke arah utara. Dulu menyeberangi sungai Citanduy. Adananya Dan Tambakbaya pula konsisten mengejarnya, tapi Ni Nursari larinya lebih cepat. Di sebrang sungai, ketiganya pula ngaleungit (menghilang).
Makin lama, sungai Citanduy pula semakin ramai disinggahi para bandar (pedagang) dari kerajaan Galuh & Mataram. Daerah di pinggir sungai Citanduy serta setelah itu dikenal bersama nama kampung Bandar (pedagang atau pusat perniagaan). Makin lama,kampung Bandar pula makin tidak sedikit disinggahi bandar-bandar (para pedagang) dari Mataram. Bahasa yang dimanfaatkan warga juga bercampur, antara bahasa Sunda bersama bahasa Jawa, yg oleh masyarakat setempat disebutnya basa Jawa réang. 

Adapun kampung tempat tinggal Ni Nursari dan  ibu angkatnya tinggal seterusnya disebut kampung 
Bandar Pataruman. Konon kata Pataruman berasal dari kata patarungan, sebagai pangeling-eling atas sejarah pertarungan antara Adananya & Tambakbaya memperebutkan Ni Nursari ketika itu. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa di kampung itu banyakditanami pohon tarum, adalah sejenis tanaman nila yang pada periode kolonial dijadikan tanaman paksa. Maka daerah tersebut dikenal bersama nama pataruman atau ruangan tarum. 

Makin lama, kampong Bandar Pataruman pula makin ramai disinggahi para pedagang dari kerajaan Galuh & Mataram. Di antara para pedagang itu banyak berjodoh bersama masyarakat setempat dan banyak juga  yng telah bermukim. Nama Bandar Pataruman serta beralih jadi nama Banjar Patroman, lantaran pada saat itu tidak sedikit diucapkan salah oleh pendatang dari Mataram. Tapi, adakalanya kampung BanjarPatroman pula dinamakan Banjar saja. Saat Ini, kampong Banjar yg letaknya dipinggir sungai Citanduy itu telah berkembang jadi suatu kota yang membatasi wilayah antara Propinsi Jawa Barat & Propinsi Jawa Tengah.

SEJARAH KOTA CIAMIS

           
            SEJARAH KOTA CIAMIS

Tanggal 12 Juni merupakan tanggal angka dan bulan keramat bagi Kabupaten Ciamis karena itu momen sakral cikal bakal terbentuknya Kabupaten Ciamis. Berdasarkan keterangan yang dirangkum dari beberapa sumber yaitu Buku Sejarah Ciamis (hasil kerjasama Pemkab Ciamis dan LPPM Unigal, 2005), Sejarah Kertabumi Ciamis (R. Gun Gun Gurnadi) dan Buku Onom jeung Rawa Lakbok (R.A.Danadibrata), penetapan tanggal tersebut memiliki riwayat dan latar belakang sejarah yang sangat panjang, dari jaman purbakala sampai jaman kemerdekaan.
sejarah kabupaten ciamis
Alun-alun kota Ciamis Jawa Barat
Dalam catatan akhir Buku Sejarah Ciamis disebutkan ada lima pertimbangan yang melandasi penetapan Hari jadi Ciamis yaitu:
  1. Dampak positif perkembangan pemerintahan dan masyarakat yang signifikan setelah R.P.A Jayanagara memindahkan pusat kekuasaan kabupaten Imbanagara ke Barunay.
  2. Perpindahan itu mengandung unsur perjuangan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya.
  3. Kabupaten Imbanagara akhirnya mampu menyatukan wilayah Galuh sehingga daerah kekuasaanya hampir menyamai wilayah Kerajaan Galuh tanpa melalui kekerasan.
  4. Kesultanan Mataram pun mengakui kekuasaan Kabupaten Imbanagara dan menjadikan sekutu dalam mengusir penjajah.
  5. Kenyataan hubungan antara Kabupaten Imbanagara dan Ciamis tidak dapat diputuskan.

Sejarah Awal Kabupaten Ciamis Jawa Barat

Kabupaten Ciamis dahulu merupakan sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Galuh. Kerajaan Galuh masih berdiri hingga tahun 1595 yang dipimpin oleh Ujang Meni (putra Prabu Haur Kuning) setelah di abhiseka bernama Maharaja Cipta Sanghyang di Galuh dan pemerintahanya berpusat di Cimaragas. Ketika putranya yang bernama Ujang Ngekel yang kemudian bergelar Prabu Galuh Cipta Permana berkuasa tahun 1595-1608 M kerajaan dipindahkan ke Gara Tengah (Cineam Tasikmalaya).
Berubahnya sistem kerajaan di Galuh menjadi “Kabupatian” diakibatkan kuatnya pengaruh Mataram di jaman pemerintahan Mas Jolang dengan gelar Sultan Sultan Agung Hanyokrowati (1601-1613). Menjelang 1608 merupakan masa-masa peralihan system pemerintahan di Galuh saat pengaruh Mataram di Kartasura semakin kuat. Akhirnya semua penguasa yang tadinya bergelar Prabu, Raja, Sang, Susuhunan dsb, dirubah oleh Mataram hanya menjadi Bupati dengan gelar Adipati atau Tumenggung hal itu terjadi ketika putra Prabu Galuh Cipta Permana yang bernama Ujang Ngoko naik takhta tahun 1606 dan hanya bergelar Adipati Panaekan. Oleh Mataram Adipati Panaekan diberi kekuasaan atas 960 cacah dan memerintah atas nama Sultan Mataram.
Adipati Panaekan mati terbunuh tahun 1625 oleh Adipati Singaperbangsa (adik iparnya yang menjadi Bupati di Galuh Kertabumi) akibat perselisihan faham antara mereka berdua menyangkut dalam rencana penyerangan terhadap Belanda ke Batavia. Kemudian Adipati Panaekan diganti oleh putrananya bernama Mas Dipati Imbanagara (Ujang Purba) yang berkuasa sampai tahun 1636 di Gara Tengah. Mas Dipati Imbanagara dituduh bersekongkol dengan Dipati Ukur oleh Sultan Agung akibat fitnah dari patihnya sendiri yang bernama Wiranangga karena berambisi jadi bupati. Mas Dipati Imbanagara akhirnya mendapat hukuman mati. Peristiwa ini sangat menyakitkan bagi masyarakat Galuh.
Mas Dipati Imbanagara dipenggal di Bolenglang (Ciamis) oleh Tumenggung Narapaksa dan kepalanya di bawa ke Mataram sebagai bukti. Badannya dikuburkan dan dikenal dengan makam Gegembung. Pengikut Imbanagara segera mengejar pasukan Mataram dan terjadilah perebutan kepala tersebut di sekitar Sungai Cijolang, namun kepala itu jatuh ke Leuwi Panten dan akhirnya terbawa juga Ke Mataram. Setelah Mas Dipati Imbanagara meninggal maka tampuk pemerintahan Bupati Galuh Gara Tengah dipegang oleh Mas Bongsar. Karena usianya waktu itu masih 13 tahun, untuk sementara jalannya pemerintahan dilaksanakan oleh Patih Wiranangga. Patih ini kemudian merobah isi piagam pengangkatan Mas Bongsar dari Sultan Agung dengan membuat piagam palsu yang menyatakan dirinya sebagai bupati.
Namun perbuatan ini diketahui oleh Ki Pawindan, ponggawa Mas Dipati Imbanagara yang menemukan piagam asli pengangkatan Mas Bongsar di Padaherang, dibawah kolong sebuah rumah panggung. Akhirnya terbongkarlah kebusukan Patih Wiranangga selama ini, dan Sultan Agung menjatuhkan hukuman mati. Namun atas permintaan Mas Bongsar, Patih Wiranangga yang masih Pamannya ini akhirnya diampuni. Mas Bongsar pun diangkat menjadi Bupati Galuh pada 6 Agustus 1636 dengan Gelar Raden Panji Aria Jayanegara. Dan nama kabupatennya berubah menjadi Imbanagara untuk menghormati nama ayahnya.
[quote]Menurut buku Sejarah Ciamis yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kab Ciamis bekerja sama dengan LPPM Unigal, Sejak tahun 1636 Kabupaten Imbanagara merupakan salah satu pusat kekuasaan di Galuh disamping Kertabumi dan Kawasen. Tahun 1641, kebijakan politik Mataram di mancanagara barat akibat dampak pemberontakan Dipati Ukur membuat wilayah Priangan di pecah menjadi empat kabupaten. Yaitu Sumedang,Bandung, Parakanmuncang dan Sukapura. Sedangkan wilayah Galuh dipecah menjdi 5 kabupaten yaitu:Imbanagara, Bojonglopang, Utama, Kawasen dan Banyumas. Kabupaten Utama tidak lama kemudian dilebur ke wilayah Bojonglopang. Setelah itu terjadi lagi penciutan mancanagara barat oleh Sunan Amangkurat I penguasa Mataram yang menggantikan Sultan Agung, menjadi 12 ajeg (kabupaten) Yaitu : Sumedang, Bandung, Parakanmuncang, Sukapura, Karawang, Imbanagara, Kawasen, Wirabaya (Bojonglopang), Sekace, Banyumas, Ayah dan Banjar.[/quote]
Gara Tengah ternyata menyimpan kenangan buruk bagi RPA Jayanegara sehingga beberapa kali ibukota kabupaten dipindahkan. Diantaranya ke Calingcing kemudian ke Bendanagara (Panyingkiran), sampai pada akhirnya ibukota ditetapkan di Barunay (antara Cikoneng dan Kota Ciamis). Tempat ini memilki nilai strategis. Selain tidak kekurangan air juga memilki hamparan dataran yang luas, Barunay akhirnya berubah nama menjadi Imbanagara. Waktu itu berdasarkan perhitungan Rd.Rg. Kusumasembada dan Rd.Rachmat bertepatan dengan 12 Juni 1642. momen waktu inilah yang menjadi dasar penetapan berdirinya cikal bakal Kabupaten Ciamis. Dan Jayanegara memerintah selama 42 tahun. Imbanagara menjadi ibukota kabupaten berlangsung sampai tahun 1815. dan dari tahun 1642 sampai 1815 kabupaten-kabupaten lainnya seperti Kertabumi, Utama, Kawasen, Panjalu dan Kawali dilebur ke Imbanagara.
Hal itu mengakibatkan wilayah Imbanagara semakin luas, dari Sungai Cijolang sampai ke pantai selatan dan dari Citanduy sampai ke Sukapura. Bahkan wilayah yang terletak sebelah timur Citanduy seperti Dayeuhluhur, Nusa Kambangan, Cilacap dan Banyumas, dijadikan wilayah perwalian Kabupaten Imbanagara. Sehingga wilayah kekuasaan Kabupaten Imbanagara hampir menyamai luas Kerajaan Galuh sehingga kedudukan Imbanagara paling tinggi di wilayah Galuh.
Perjanjian antara Mataram dan VOC pada 19-20 Oktober 1677 membuat wilayah Priangan Timur dikuasai oleh VOC, sebagai balas jasa Mataram yang telah dibantu oleh VOC dalam menyelesaikan perebutan kekuasaan di Mataram. Saat itu yang menjadi Bupati Imbanagara adalah R.A Angganaya (1678-1693). VOC kemudian mengangkat R.A Sutadinata(1693-1706) sepeninggalnya Angganaya. Oleh Gubernur Jendral VOC Bupati dijadikan sebagai pelaksana atau agen verplichte leverantie atau agen penyerahan wajib tanaman komoditas perdagangan seperti berasm cengkih, pala, lada, kopi, indigo dan tebu. Hal ini tentu membebani kehidupan rakyat. Sehingga tahun 1703 terjadi kerusuhan yang digerakan oleh H. Prawatasari atau Raden Alit yang melanda di wilayah Galuh yaitu di Utama, Bojonglopang dan Kawasen. Namun dapat dipadamkan oleh VOC pada 12 Juli 1707 setelah H.Prawatasari tertangkap.
1706 sampai 1727 Kabupaten Imbanagara dipimpin oleh R.A. Kusumadinata I. pada masa pemerintahanya dimulailah penanaman Kopi sekitar 1720 dengan areal budidaya di lereng Gunung Sawal dan Gunung Ciremai. Namun penanaman kopi itu tidak mencapai hasil setinggi di daerah Priangan Tengah dan barat. Selanjutnya Kusumadinata I digantikan oleh Kusumadinata II (1727-1732).
Karena R.A Kusumadinata II tidak mempunyai anak maka jabatan Bupati Imbanagara diserahkan kepada keponakannya, Mas Garuda yang masih kecil. Sehingga antara tahun 1732 sampai 1751 Kabupaten Imbanagara dipimpin oleh tiga orang wali Mas Garuda. Setelah dewasa, tahun 1751 Mas Garuda memerintah Imbanagara sampai tahun 1801 dengan gelar R.A. Kusumadinata III. Pemerintahan kemudian dilanjutkan oleh R.A. Natadikusumah (1801-1806). Masa itu merupakan masa peralihan dari VOC ke Hindia Belanda dibawah pimpinan Deandels. Dikisahkan dalam wawacan Sajarah Galuh, R.A Natadikusumah pernah memukul pejabat VOC yang bernama Ajun Kumetir Pieter Herbertus van Pabst karena merasa tersinggung akibat diperintahkan untuk menimbang hasil bumi sebab hal itu m bukan pekerjaan seorang Bupati. Sehingga jabatannya sebagai bupati dicopot dan kemudian diganti oleh Surapraja dari Limbangan (1806-1811). Surapraja merupakan bupati Imbanagara yang bukan keturunan Galuh.
Surapraja kemudian dilanjutkan oleh R.Tumenggung Jayengpati Kartanagara selama satu tahun, karena Surapraja dianggap tidak cakap. Pada masa itu Inggris menguasai pulau Jawa setelah Gubernur Jendral Hindia Belanda Jan Willem Jansens (pengganti H.W Daendels) menyerah tanggal 17 September 1811 di Salatiga. Jayengpati Kartanagara diganti oleh R.T. Natanagara dari Cirebon namun jabatanya dicopot kembali tahun 1814 akibat berniat memindahkan ibu kota kabupaten ke Randegan (dekat Banjar). Jabatanya kemudian diisi oleh Pangeran Sutajaya dari Gebang Cirebon. Karena hubunganya kurang harmonis dengan ketiga patihnya yaitu R. Wiradikusuma (Imbanagara), R.Wiratmaka (Utama) dan R. Jayadikusumah (Cibatu.Ciamis), maka Pangeran Sutajaya menyerahkan posisinya kepada tumenggung Wiradikusumah tanggal 15 Januari 1815. pada saat itu Kabupaten Imbanagara beralih nama menjadi Kabupaten Galuh dengan ibukotanya di Ciamis dan secara resmi nama ini diakui oleh Hindia Belanda diakhir pemerintahan Raffles. Dan Kabupaten Galuh kembali dipimpin oleh keturunan Maharaja Sanghyang Cipta Permana.
Pertengahan tahun 1819-1839 Kabupaten Galuh dipimpin oleh R.Adipati Adikusumah (putra Wiradikusuma). Pada masanya pemerintah Hindia Belanda yang tengah terbebani utang besar akibat besarnya biaya perang menerapkan system pemulihan ekonomi yang kelak disebut cultuur stelsel yang diusulkan oleh van den Bosch tahun 1829. Jabatan Bupati Galuh kemudian di lanjutkan oleh putranya yang bernama R.A.A Kusumadiningrat (1839-1886) yang mendapat Gelar Kanjeng Prebu.. Dalam buku Onom dan Rawa Lakbok disebutkan bahwa gelar tersebut lebih tinggi dari gelar pangeran. Gelar tersebut juga diberikan oleh pemerintah Hindia Belanda, karena memang dicintai oleh masyarakat Galuh.
Kanjeng Prebu lahir tahun 1811 di Imbanagara, merupakan bupati yang terkemuka karena sangat memperhatikan berbagai bidang pembangunan di Kabupaten Galuh. Diantaranya adalah membangun saluran air Gandawangi, Cikatomas ( 1842), Wangundireja (1862), Dam Tanjungmangu atau Nagawiru (1843). Kanjeng Prebu juga membangun beberapa gedung di pusat ibukota Kabupaten Galuh, yaitu Ciamis. Saat ini gedung-gedung terdebut dikenal sebagai Gedung DPRD, Gedung Kabupaten, Tangsi Militer, Masjid Agung dsb. Atas usulan Kanjeng Prebu kepada Pemerintah Hindia Belanda maka jalan kreta api dapat melalui Ciamis, kendati Belanda harus merogoh kocek yang lebih besar karena harus membangun 2 jembatan besar yaitu Cirahong dan Karangpucang
Kanjeng Prebu juga sangat memperhatikan bidang pendidikan. Oleh karena itu dirinya mendirikan sekolah sunda di Ciamis (1862) dan di Kawali (1872), hal tersebut merupakan karya kepeloporan pendirian sekolah di Jawa Barat. Demikian pula dibidang pertanian, yang paling terlihat adalah penanaman Pohon Kelapa, sehingga akhirnya Ciamis terkenal sebagai lumbung kelapa. Pola pikirnya yang dinamis dan progresif ditunjang oleh kecerdasan dan wibawanya dalam membangun relasi keberbagai golongan, terutama pemerintah Belanda membuat Kanjeng Prebu sangat dihormati dan disegani. Berkat dirinya pula maka akhirnya cultuur stelsel yang sangat membebani rakyat dapat di hapus secara bertahap. Selain masyhur kepemimpinannya di berbagai bidang, kanjeng prebu juga terkenal memiliki kelebihan lain, terutama hubungan khususnya dengan onom. Banyak cerita yang mengisahkan perihal onom dalam kaitannya dengan Kanjeng Prebu dan beberapa bupati lainnya.
Kanjeng Prebu setelah pengsiun kemudian diganti oleh putrannya yaitu R.A. Kusumasubrata yang memerintah sampai tahun 1914. pada masa pemerintahannya tercatat pernikahan Orientalis Belanda terkenal bernama Christian Snouck Hurgronje dengan Sangkana, putri satu-satunya RH. Muhamad Thaib, Penghulu Kepala Ciamis saat itu. Namun sayangnya setelah Snouck kembali ke Belanda tahun 1906, sampai saat ini Snouck tidak pernah mengungkapkan pernikahaanya, bahkan 4 orang putranya dari Sangkana tidak diperbolehkan menemuinya dan tidak mengakuinya secara resmi.
Setelah era R.A. Kusumasubrata, Pemerintah Hindia Belanda tidak mengangkat keturunannya karena banyak anggota keluarga bupati yang menentang kekuasaan Belanda, salah satunya adalah R. Oto Gurnita Kusumasubrata. Maka tahun 1914, Belanda mengangkat Tumenggung Sastrawinata sebagai Bupati Galuh. Bupati ini berasal dari purwakarta dan bukan keturunan R.P.A Jayanagara, namun masih memilki garis silsilah dari Ciancang (Utama). Dua tahun kemudian (1916) atas persetujuan Belanda, Sastrawinata mengubah nama Kabupaten Galuh menjadi Kabupaten Ciamis.
Dimasa kepemerintahannya beberapa peristiwa politik terjadi. Diantaranya adalah pembagian pulau Jawa menjadi 3 provinsi (tgl. 1 Januari 1926). Selain itu terjadi pula pemberontakan komunis yang dipimpin oleh Egom dan Dirja. Sastrawinata berjasa besar dalam penumpasan pemberontakan tersebut sehingga Belanda menganugrahkan Bintang Grootkruis der Militaire Wilems Orde. Sastrawinata kemudian digantikan oleh R.T. A. Sunarya tahun 1935 dan memerintah sampai 1944, pada masa itu, beberapa wilayah Kabupaten Sukapura masuk ke Wilayah Ciamis sperti Banjar, Banjarsari, Pangandaran, dan Cijulang.

Kabupaten Ciamis Setelah Kemerdekaan RI

Masa pemerintahan Bupati kemudian dilanjutkan R. Mas Ardiwiangun (1944-1946). Proklamasi kemerdekaan RI adalah momoen penting yang terjadi semasa dirinya menjabat bupati. Ardiwinangun kemudian diganti oleh Raden Vater Dendakusumah (1946-1948) yang berasal dari Panjalu. Dimasa itu agresi militer Belanda tengah gencar-gencarnya sehingga Bupati sempat mengungsi dengan sebagian rakyatnya ke Gunung Sawal dan Salakaria. Di Salakaria Bupati sempat membangun Pasar Dongkal (daerah Ciilat). R. Veter Dendakusumah kemudian menjadi Mentri Kemakmuran Negara Pasundan. Kepemimpinan Bupati selanjutnya dipegang oleh Tumenggung Gumelar Wiranagara (1948-1950). Bupati Ciamis Jawa barat ini masih keturunan Tumenggung Wiramantri yang berasal dari Utama.
Raden Tumenggung Gumelar Wiranagara, setelah menjabat sebagai Bupati Ciamis kemudian menjadi Bupati Bandung. Setelah itu, yang menjadi Bupati Ciamis adalah Prawiranata (1950). Karena diangkat pada jaman Perang Grilya, bupati ini dijuluki Bupati Grilya, namun pemerintahanya tidak berlangsung lama, karena pada tahun itu pula Prawiranata diganti oleh Redi Martadinata (1950-1952). Saat itu pemerintahan RIS berubah menjadi Republik dan uang merah menjadi uang republik. Tokoh yang disiapkan sebagai pengganti Redi Martadinata adalah Abdul Rifa’I (1952) namun sebelum menerima jabatannya, Abdul Rifa’i diculik oleh sekelompok orang yang tidak senang terhadap dirinya di Kuningan saat dalam perjalanan menuju Ciamis.
Pengganti Abdul Rifa’i adalah Mas Rais Sastradipura (1952-1954) setelah dipindahkan ke Bandung, kemudian diganti oleh Raden Yusuf Suriadipura (1954-1958). Setelah selesai masa jabatanya, Bupati Ciamis dilanjutkan oleh Raden Gahara Wijayasurya (1958-1960). Saat itu diberlakukanUU RI no 1. tahun 1951 tentang Kepala Daerah Swatantra di Kab.Ciamis, Jawa barat. Dewan Daerah kemudian menunjuk Sulaeman Effendi menjadi Kepala Derah Swatantra Tingkat II Ciamis. Namun posisi ini diberhentikan lagi pada tanggal 5 Desember 1960 setelah ada Keppres No.6 tahun 1959. jadi dalam kurun waktu antara 1958 sampai 1960 di Kabupaten Ciamis ada 2 pejabat setingkat Bupati yang memiliki tugas berbeda tapi saling melengkapi. Tugas bupatibertanggungjawab kepada bidang ekonomi dan keamanan, sedangkan Kepala daerah Swatantra bertanggungjawab atas pajak dan pembangunan daerah.
Tahun 1960 terjadi perubahan penetapan Bupati dari system turun temurun di masa kerajaan, dilanjutkan dengan system penunjukan di masa kolonial, maka setelah era Raden Gahara Wijayasurya, pemilihan bupati dipilih oleh DPRD sebagai parlemen daerah. Maka tampilah Raden Udia Kartapruwita (1960-1966) sebagai Bupati pertama yang mendapat sebutan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Ciamis. Bupati selanjutnya adalah Kolonel Abubakar. Kiprahnya adalah membuat tanggul Citanduy secara gotong royong. Mendapat perhatian dari pemerintah pusat sehingga didirikan proyek Citanduy untuk menangani Daerah Aliran Sungai. Sehingga bupati ini dijuluki Bupati Tanggul. Selain itu, Abubakar juga membuat taman di depan Masjid Agung Ciamis dan gedung secretariat. Memerintah selama 7 tahun disaat masa transisi pemerintahan orde lama ke orde baru.
Jabatan bupati berikutnya dipegang oleh Kolonel Hudli Bambang Aruman, dari 9 November 1973 samapi 20 November 1978. pembangunan yang berhasil dilaksanakan diantaranya membuat jaringan jalan-jalan di kampung, mendirikan Puskesmas di setiap kecamatan serta pendidikan SD inpres. Kepala Dinas Pariwisatapun mulai diadakan. Bupati Ciamis selanjutnya adalah Drs.H.Soeyoed yang bertugas dari 20 November 1978 sampai 7 November 1983, berasal dari Panyingkiran. Kiprahnya adalah menjadi penggerak nelayan di Pangandaran dengan mengubah sisitem tradisional menjadi modern. Drs.H.Soyoed kemudian digantikan oleh H. Momon Gandasasmita pada 7 November 1983 sampai 1988. pada masa kepemimpinannya, masalah kerohanian menjadi perhatian besar. Termasuk juga mengiatkan PKK di daerah-daerah. H. Momon Gandasasmita, selesai bertugas di Ciamis, menjadi Bupati di Kabupaten Garut dan terakhir menjadi Residen di Serang.
Kolonel Inf.H.Taufik Hidayat yang menjadi Bupati Kabupaten Ciamis periode 7 November 1988 – 7 November 1993 berasal dari Awipari Tasikmalaya. Sebelumnya adalah Bupati Kabupaten Garut. Hasil pembangunannya menyangkut perubahan-perubahan fisik, diantaranya, menata Kota Ciamis, memindahkan pasar, terminal, membuat jalan lingkar selatan, memindahkan sebagian kantor, menyelesaikan Gelanggang Galuh Taruna, membangun Stadion Galuh, membangun jembatan Sungai Citanduy antara Bojong dan Cimaraga dan Pembangunan Lanud Nusawiru. Bidang Olahraga mendapat perhatian khusus dari bupati ini.
Penggantinya adalah Kol.Kav. H. Dedem Ruchlia (1993-1998), kiprahnya meneruskan jejak kerja bupati terdahulunya. Seperti Pembuatan Taman Air Mancur rafflesia, Perombakan Situs Karangkamulyan, dan mengembalikan lagi pamor Gedung Negara ke bentuk aslinya, dan membangun Gedung DPRD yang megah. Sebelum jabatanya berakhir Dedem Ruchlia diangkat menjadi wakil Gubernur Jawa Barat Bidang Kesra dan jabatanya diserahkan kepada wakil bupati, Drs. Maman Suparman Rachman.6 April 1999, H. Oma Sasmita S.H menjadi bupati pertama Ciamis di masa reformasi. penegakan disiplin di lingkungan karyawan merupakan salah satu upayanya. Oma Sasmita memerintah sampai April 2004.
Kolonel (Purn) H. Engkon Komara, menjadi Bupati ke 37 menurut silsilah Hari Jadi Ciamis. Dilantik pada tanggal 6 April 2004. jabatan terakhirnya sebelum menjadi Bupati adalah Kepala Staf Garnisum II Bandung-Cimahi, karirnya yang mulus dibidang militer membuat dirinya mendapat berbagai bintang penghargaan. Antara lain Satya Lencana Seroja, Satya Lencana Bhakti, satya Lencana Dwija Cista dan Bintang Veteran Timor Timur.
Engkon Komara memimpin Ciamis dengan konsep partisipatif, selalu berusaha menyerap aspirasi seluruh komponen masyarakat dalam pembangunan daerahnya. Sehingga berbagai bidang pembangunan seperti pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan dan pariwisata menjadi unggulan dan berpotensi besar di Jawa Barat. Tekad lainnya adalah mengembangkan agrobisnis dan pariwisata Ciamis agar menjadi yang termaju di wilayah priangan. Kendati kepemimpinannya tengah diuji oleh wacana pemekaran wilayah di Ciamis Selatan, seolah menjadi sisi lain dari dinamika politik yang tengah dicari solusinya dengan tepat dan bermanfaat bagi seluruh masyarakat Ciamis.
Sebuah petuah bijak Prabu Niskala Wastukancana, yang berbunyi pakena gawe rahayu pakeun heubeul jaya di buana, semoga menjadi landasan moral bagi figur pemimpinan Kabupaten Ciamis di masa kini dan yang akan datang, agar Ciamis betul-betul-betul dinamis.

SEJARAH KOTA TASIKMALAYA


      SEJARAH KOTA TASIKMALAYA
                                      Hasil gambar untuk sejarah kota tasikmalaya
Antara Sukapura dan Tasikmalaya berbilang riwayat yang panjang. Dua nama yang berada di wilayah Priangan Timur, Jawa Barat, ini silih berganti menjadi nama wilayah administratif. Riwayatnya bisa kita gali dari buku buku sejarah. Di antaranya kita bisa membaca tulisan “Sukapura (Tasikmalaya)” karya Ietje Marlina yang dimuat dalam buku Sejarah Kota-kota Lama di Jawa Barat (2000: 91-110) dan Sejarah Kota Tasikmalaya, 1820-1942 (2010), karya Miftahul Falah. Dari kedua buku tersebut, nama pertama yang mula-mula mengemuka dalam sejarah adalah Sukapura.
Pertama-tama nama ini merujuk kepada satu dari tiga kabupaten di Priangan yang diresmikan oleh Sultan Agung dari Mataram pada 9 Muharam Tahun Alif yang bertepatan dengan 20 April 1641. Dua kabupaten lainnya adalah Kabupaten Parakanmuncang dan Bandung.
Tasik_1
Peresmian tersebut merupakan balas jasa Sultan Agung kepada umbul-umbul di Priangan Timur yang membantu menumpas pemberontakan Dipati Ukur kepada Mataram. Pada 1632, umbul Sukakerta Ki Wirawangsa bersama dengan Umbul Cihaurbeuti Ki Astamanggala dan Umbul Sindangkasih Ki Somahita menahan dan membawa kepala daerah Tatar Ukur itu ke Mataram untuk dihukum mati. Sebagai imbalannya, dalam piagam bertanggal 9 Muharam, itu Sultan Agung mengangkat Ki Wirawangsa sebagai Bupati Sukapura  bergelar Tumenggung Wiradadaha; Ki Astamanggala menjadi bupati Bandung bergelar Tumenggung Wiraangun-angun; dan Ki Somahita sebagai Bupati Parakanmuncang bergelar Tumenggung Tanubaya.
Nama Sukapura menurut Babad Soekapoera (R. Kertianagara), berasal dari kata “suka” yang berarti “asal” atau “tiang” dan “pura” berarti “karaton” atau istana. Dengan demikian, Sukapura bisa mengandung arti “djedjerna karaton” atau “asal-mula istana”, karena di tempat itulah kabupaten Sukapura berdiri. Meskipun nama Sukapura bisa juga sebenarnya diambil dari nama desa yang menjadi bawahan Distrik Sukaraja, karena kemudian terbukti Ki Wirawangsa memindahkan ibukota kabupaten dari Dayeuh Tengah ke Leuwi Loa, yang termasuk Desa Sukapura Onderdistrik Sukaraja.
Dilihat dari perkembangannya, sejak awal pendirian Kabupaten Sukapura hingga tahun 1901, kota yang kini dikenal sebagai Tasikmalaya tidak termasuk ke dalam wilayah Sukapura. Mulanya, ia masuk wilayah Kabupaten Parakanmuncang dan Kabupaten Sumedang. Mula-mula Kota Tasikmalaya dikenal sebagai bagian dari Umbul Galunggung atau Indihiang, yang termasuk Kabupaten Parakanmuncang. Kemudian sejak 1820 muncul nama distrik Tasikmalaija op Tjitjariang (Tasikmalaya atau Cicariang) dan inilah kali pertama nama Tasikmalaya mengemuka dalam sejarah sebagai nama sebuah wilayah.
Pada 1839, Distrik Tasikmalaija op Tjitjariang diringkas menjadi Distrik Tasikmalaija dan pada 1901 distrik tersebut dimasukkan sebagai bagian dari wilayah Kabupaten Sukapura. Perubahan yang sangat berarti terjadi pada 1913, karena sejak itu secara resmi Kabupaten Sukapura berubah nama menjadi Kabupaten Tasikmalaya. Perubahan ini mengikuti nama ibukota kabupaten sesuai dengan kebijakan kolonial Hindia Belanda.
Dari sisi toponiminya, nama Tasikmalaya menimbulkan berbagai penafsiran. Dalam kedua buku di atas misalnya, ada dua pendapat yang menyatakan asalusul nama Tasikmalaya. Pertama, nama itu terbentuk dari kata “tasik” dan “laya”. “Tasik” berarti “keusik” atau pasir dan “laya” berarti “ngalayah” atau menghampar. Jadi, Tasikmalaya diartikan sebagai “keusik ngalayah” atau pasir yang menghampar akibat letusan Gunung Galunggung pada 8 dan 12 Oktober 1822.
Kedua, nama itu terbentuk dari kata “tasik” dan “malaya”. “Tasik” berarti telaga, danau, atau air yang menggenang dan “malaya” berarti jajaran gunung-gunung. Dengan demikian, Tasikmalaya dapat diartikan sebagai jajaran gunung-gunung yang berjejer dalam jumlah yang banyak, seperti yang terekam dalam ungkapan “Jajaran gunung-gunung téh lobana lir cai laut” yang berkembang di masyarakat Tasikmalaya.
Pendapat kedua ini pun dihubungkan dengan letusan Galunggung 8 dan 12 Oktober 1822. Bedanya, tafsiran kedua menyertakan fenomena terbentuknya sekitar 3.648 bukit kecil (hillocks) yang dikenal sebagai “10 ribu bukit” di sekitar Tasikmalaya, akibat letusan tersebut.
Namun, bila merujuk kepada penamaan wilayah sebagaimana yang dapat dibaca dari buku Miftahul Falah, kedua pendapat tersebut tertolak, karena nama Tasikmalaya sebagai nama daerah sudah digunakan sejak tahun 1820, dua tahun sebelum terjadinya letusan Galunggung pada 8 dan 12 Oktober 1822.
Penafsiran lainnya mengenai toponimi Tasikmalaya disampaikan geologiawan senior M.M. Purbo Hadiwidjoyo pada muhibah kebumian 23-26 Januari 2013 dari Tasikmalaya hingga Banjarnegara. Di sela-sela perjalanan, antara lain di Jembatan Cirahong dan Hotel MGriya Guest House, Purwokerto, Purbo menerangkan bahwa kata Tasikmalaya berasal dari kata “tasik” yang berarti “danau”, awalan kata kerja “ma-“ dan “laya” yang berarti “mati”. Sehingga pengertian Tasikmalaya menurut Purbo adalah danau yang di dalamnya banyak mayat terapung-apung.
Memang, penafsiran tersebut ia kaitkan dengan kegiatan Gunung Galunggung. Namun, kegiatannya bukan yang terjadi pada 1822, melainkan jauh sebelum itu, bahkan ribuan tahun sebelum itu. Kala itu Gunung Galunggung meletus sangat dahsyat. Ledakannya menghancurkan dinding timur Galunggung. Lontarannya sampai ke Manonjaya dan menutup alur Sungai Citanduy Purba. Karena tertutup, maka jadi danau. Air danaunya mula-mula mengalir ke selatan jadi Sungai Cibulan. Sebagian airnya bergabung dengan air dari Galunggung, Cakrabuana, dan gunung-gunung di sekitar Purwokerto yang dipengaruhi oleh budaya Sunda atau bercorak Sunda, contohnya, Cilongok, Rancamaya, Baturaden, Darmaraja, Tangkil, Pageraji, Pakuncen, Babakan, Cimerang, dan Paguyangan.
Hal ini, mungkin karena dulu di Purwokerto pernah berdiri Kerajaan Pasir Luhur bagian dari Kerajaan Sunda-Galuh. Kali Serayu dan Bendung Hidraulik Pertama di Gambarsari Hari kedua, mula-mula kami menepi di tepi jalan yang berbatasan dengan Kali Serayu arah dari Purwokerto, setelah melewati dua bukit tempat terowongan kereta api. Dari tempat itu ke arah hulu tampak jembatan kereta api melintasi Kali Serayu, sedangkan ke arah hilir terlihat bendung Gambarsari.
Kami pun menyambangi tempat poros bendung itu. Sungai Serayu atau Kali Serayu, dulu dalam naskah Bujangga Manik disebut juga Ci Sarayu, benar-benar merupakan sungai besar. Salah satu mata airnya, bernama “Tuk Bima Lukar”, berada di dataran tinggi Dieng. Dari hulunya di daerah Dieng hingga ke muaranya di dekat pantai Cilacap, sekitarnya, sehingga membentuk Sungai Citanduy Baru yang alirannya memutar dan menembus ke Cirahong. Saat letusan Galunggung itu, sudah ada manusia. Sehingga setelah pembendungan Citanduy Purba oleh lahar Galunggung dan pembentukan tasik atau danau, banyak penduduk di sekitarnya menjadi korban dan memenuhi danau itu, sehingga daerah tersebut dinamakan Tasikmalaya.
Untuk memperkuat pendapatnya, Purbo mengetengahkan Kampung Naga di Salawu sebagai daerah yang selamat dari letusan besar Galunggung itu dan kemudian terbebat (terisolir) dari penduduk lainnya, sehingga tata budaya mereka cenderung berbeda dengan penduduk lainnya.
Bagaimanapun, menafsir Tasikmalaya adalah upaya terbatas. Tafsiran-tafsiran di atas adalah cara untuk mendekati kebenaran melalui bahasa yang secara turuntemurun digunakan untuk merekam kejadian alam.
Penanda “tasik” yang disangkutkan dengan pasir maupun danau dan “laya” yang disangkutkan dengan hamparan, jajaran gunung-gunung, atau kematian, semuanya hendak membongkar petanda di balik kata Tasikmalaya yang bertaut dengan peristiwa alam.
Maka, siapa yang benar dan yang salah dalam menafsir Tasikmalaya tidak relevan lagi. Siapapun boleh menafsirkan lagi Tasikmalaya berdasarkan bukti-bukti yang dimilikinya.

SEJARAH KOTA KUNINGAN


SEJARAH KOTA KUNINGAN

Hasil gambar untuk sejarah kota kuningan
Kabupaten Kuninganadalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa BaratIndonesia. Ibukotanya adalah Kuningan. Letak astronomis kabupaten ini di antara 108°23″ – 108°47″ Bujur Timur dan 6°45″ – 7°13″ Lintang Selatan. Kabupaten ini terletak di bagian timur Jawa Barat, berbatasan dengan Kabupaten Cirebon di utara, Kabupaten Brebes (Jawa Tengah) di timur, Kabupaten Ciamis di selatan, serta Kabupaten Majalengka di barat. Kabupaten Kuningan terdiri atas 32 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah 361 desadan 15 kelurahan. Pusat pemerintahan di Kecamatan Kuningan.
Bagian timur wilayah kabupaten ini adalah dataran rendah, sedang di bagian barat berupa pegunungan, dengan puncaknya Gunung Ceremai (3.076 m) yang biasa salah kaprah disebut dengan Gunung Ciremai, gunung ini berada di perbatasan dengan Kabupaten Majalengka. Gunung Ceremai adalah gunung tertinggi di Jawa Barat.
Asal Mula Kabupaten Kuningan
Pertama kali diketahui Kerajaan Kuningan diperintah oleh seorang raja bernama Sang Pandawa atau Sang Wiragati. Raja ini memerintah sejaman dengan masa pemerintahan Sang Wretikandayun di Galuh (612-702 M). Sang Pandawa mempunyai putera wanita bernama Sangkari. Tahun 617 Sangkari menikah dengan Demunawan, putra Danghyang Guru Sempakwaja, seorang resiguru di Galunggung. Sangiyang Sempakwaja adalah putera tertua Wretikandayun, raja pertama Galuh. Demunawan inilah yang disebutkan dalam tradisi lisan masyarakat Kuningan memiliki ajian dangiang kuning dan menganut agama sanghiyang.
Meskipun Kuningan merupakan kerajaan kecil, namun kedudukannya cukup kuat dan kekuatan militernya cukup tangguh. Hal itu terbukti dengan kekalahan yang diderita pasukan Sanjaya (Raja Galuh) ketika menyerang Kuningan. Kedatangan Sanjaya beserta pasukannya atas permintaan Dangiyang Guru Sempakwaja, besan Sang Pandawa dengan maksud untuk memberi pelajaran terhadap Sanjaya yang bersikap pongah dan merasa diri paling kuat. Sanjaya adalah cicit Sang Wretikandayun, melalui putranya Sang Mandiminyak yang menggantikannya sebagai Raja Galuh (703-710) dan cucunya Sang Sena yang menjadi raja berikutnya (710-717).
Di Kerajaan Galuh terjadi konflik kepentingan, sehingga Resi Guru Sempakwaja mengambil keputusan. Diantaranya menempatkan Sang Pandawa menjadi guru haji (resiguru) di layuwatang (sekarang tempatnya di Desa Rajadanu Kecamatan Japara). Sedangkan kedudukan kerajaan digantikan Demunawan dengan gelar Sanghiyangrang Kuku, tahun 723.
Masa pemerintahan Rahyangtang Kuku, diberitakan bahwa ibu kota Kerajaan Kuningan ialah Saunggalah. Lokasinya diperkirakan berada di sekitar Kampung Salia, sekarang termasuk Desa Ciherang Kecamatan Nusaherang. Seluruh wilayahnya meliputi 13 wilayah diantaranya Galunggung, Layuwatang, Kajaron, Kalanggara, Pagerwesi, Rahasesa, Kahirupan, Sumanjajah, Pasugihan, Padurungan, Darongdong, Pegergunung, Muladarma dan Batutihang.
Tahun 1163-1175, Kerajaan Saunggalah terungkap lagi setelah tidak ada catatan paska Demunawan. Saat itu tahta kerajaan dipegang oleh Rakean Dharmasiksa, anak dari Prabu Dharmakusumah (1157-1175) seorang raja Sunda yang berkedudukan di Kawali. Rakean Dharmasiksa memerintah Saunggalah menggantikan mertuanya, karena ia menikah dengan putri Saunggalah.
Namun Rakean Dharmasiksa tidak lama kemudian menggantikan ayahnya yang wafat tahun 1175 sebagai Raja Sunda. Sedangkan kerajaan Saunggalah digantikan puteranya yang bernama Ragasuci atau Rajaputra. Sebagai penguasa Saunggalah, Ragasuci dijuluki Rahyantang Saunggalah (1175-1298). Ia memperistri Dara Puspa, putri seorang raja Melayu.
Tahun 1298, Ragasuci diangkat menjadi Raja Sunda menggantikan ayahnya dengan gelar Prabu Ragasuci (1298-1304). Kedudukannya di Saunggalah digantikan puteranya bernama Citraganda. Pada masa kekuasaan Ragasuci, wilayah kekuasaannya bertambah meliputi Cipanglebakan, Geger Gadung, Geger Handiwung, dan Pasir Taritih di Muara Cipager Jampang.
Masa Keadipatian
Berdasarkan tradisi lisan, sekitar abad 15 Masehi di daerah Kuningan sekarang dikenal dua lokasi yang mempunyai kegiatan pemerintahan yaitu Luragung dan Kajene. Pusat pemerintahan Kajene terletak sekarang di Desa Sidapurna Kecamatan Kuningan. saat itu, Luragung dan Kajene bukan lagi sebuah kerajaan tapi merupakan buyut haden. Masa ini, dimulai dengan tampilnya tokoh Arya Kamuning, Ki Gedeng Luragung dan kemudian Sang Adipati Kuningan sebagai pemipun daerah Kajene, Luraugng dan kemudian Kuningan.
Mereka secara bertahap di bawah kekuasaan Susuhunan Jati atau Sunan Gunung Djati (salah satu dari sembilan wali, juga penguasa Cirebon). Tokoh Adipati Kuningan ada beberapa versi. Versi pertama Sang Adipati Kuningan itu adalah putera Ki Gedeng Luragung (unsur lama). Tetapi kemudian dipungut anak oleh Sunan Gunung Djati (unsur baru).
Dia dititipkan oleh aya angkatnya kepada Arya Kamuning untuk dibesarkan dan dididik. Kemudian menggantikan kedudukan yang mendidiknya. Versi kedua, Sang Adipati Kuningan adalah putera Ratu Selawati, keturunan Prabu Siliwangi (unsur lama), dari pernikahannya dengan Syekh Maulanan Arifin (unsur baru). Disini jelas terjadi kearifan sejarah.
Berdasarkan Buku Pangaeran Wangsakerta yang ditulis abad ke 17, Sang Adipati Kuningan yang berkelanjutan penjelasanya adalah berita yang menyebutkan tokoh ini dikaitkan dengan Ratu Selawati. Bahwa agama Islam menyebar ke Kuningan berkat upaya Syek Maulana Akbar atau Syek Bayanullah. Dia adalah adik Syekh Datuk Kahpi yang bermukim dan membuka pesantren di kaki bukit Amparan Jati (sekarang Cirebon).
Syekh Maulana Akbar membukan pesantren pertama di Kuningan yaitu di Desa Sidapurna sekarang, ibu kota Kajene. Ia menikah dengan Nyi Wandansari, putri Surayana. Ada pun Surayana adalah putra Prabu Dewa Niskala atau Prabu Ningrat Kancana, Raja Sunda yang berkedudukan di Kawali (1475-1482) yang menggantikan kedudukan ayahnya Prabu Niskala Wastu Kancana atau lebih dikenal dengan sebutan Prabu Siliwangi.
Dari pernikahan dengan Nyi Wandansari berputra Maulana Arifin yang kemudian menikah dengan Ratu Selawati. Ratu Selawati bersama kakak dan adiknya yaitu Bratawijaya dan Jayakarsa adalah cucu Prabu Maharaja Niskala Wastu Kancana atau Prabu Siliwangi. Bratawijaya kemudian memimpin di Kajene dengan gelar Arya Kamuning. Sedangkan Jayaraksa memimpin masyarakat Luragung dengan gelar Ki Gedeng Luragung.
Mereka bertiga, yakni Ratu Selawati, Arya Kamuning (Bratawijaya), Ki Gedeng Luragung (Jayaraksa) diIslamkan oleh uwaknya yakni Pangeran Walangsungsang. Adapun Sang Adipati Kuningan yang sesungguhnya bernama Suranggajaya adalah anak dari Ki Gedeung Luragung (namun hal itu masih merupakan babad peteng atau masa kegelapan yang sampai saat ini tidak diketahui kebenarannya sesungguhnya anak siapa Sang Adipati Kuningan).
Atas prakarsa Sunan Gunung Djati dan istrinya yang berdarah Cina Ong Tin Nio yang sedang berkunjung ke Luragung, Suranggajaya diangkat anak oleh mereka. Tetapi pemeliharaan dan pendidikannya dititipkan pada Arya Kamuning. Sedangkan Arya Kamuning sendiri dikabarkan tidak memiliki keturunan. Akhirnya Suranggajaya diangkat jadi adipati oleh Susuhunan Djati (Sunan Gunung Djati) menggantikan bapak asuhnya.
Penobatan ini dilakukan pada tanggal 4 Syura (Muharam) Tahun 1498 Masehi. Penanggalan tesebut bertempatan dengan tanggal 1 September 1498 Masehi. Sejak tahun 1978, hari pelantikan Suranggajaya menjadi Adipati Kuningan itu ditetapkan sebagai Hari Jadi Kuningan sampai sekarang.***

SEJARAH KOTA KARAWANG


            SEJARAH KOTA KARAWANG



                         Hasil gambar untuk sejarah kota karawang





Bila kita melihat jauh ke belakang, ke masa Tarumanegara hingga lahirnya Kabupaten Karawang di Jawa Barat, Berturut-turut berlangsung suatu pemerintahan yang teratur, baik dalam system pemerintahan pusat (Ibu Kota). Pemegang kekuasaan yang berbeda, seperti Kerajaan Taruma Negara (375-618) Kerajaan Sunda (Awal Abad VIII-XVI). Termasuk pemerintahan Galuh, yang memisahkan diri dari kerajaan Taruma Negara, ataupun Kerajaan Sunda pada tahun 671 M. Kerajaan Sumedanglarang (1580-1608, Kasultanan Cirebon (1482 M) dan Kasultanan Banten ( Abad XV-XIX M). 
Sekitar Abad XV M, agama Islam masuk ke Karawang yang dibawa oleh Ulama besar Syeikh Hasanudin bin Yusuf Idofi, dari Champa, yang terkenal dengan sebutan Syeikh Quro, sebab disamping ilmunya yang sangat tinggi, beliau merupakan seorang Hafidh Al-Quran yang bersuara merdu. Kemudian ajaran agama islam tersebut dilanjutkan penyebarannya oleh para Wali yang disebut Wali Sanga. Setelah Syeikh Quro Wafat, tidak diceritakan dimakamkan dimana. Hanya saja, yang ada dikampung Pulobata, Desa Pulokalapa, Kecamatan Lemahabang Wadas, Kabupaten Karawang, merupakan maqom (dimana Syech Quro pernah Tinggal).
Pada masa itu daerah Karawang sebagian besar masih merupakan hutan belantara dan berawa-rawa. Hal ini menjadikan apabila Karawang berasal dari bahasa Sunda. Ke-rawa-an artinya tempat berawa-rawa. Nama tersebut sesuai dengan keadaan geografis Karawang yang berawa-rawa, bukti lain yang dapat memperkuat pendapat tersebut. Selain sebagian rawa-rawa yang masih tersisa saat ini, banyak nama tempat diawali dengan kata rawa, seperti : Rawasari, Rawagede, Rawamerta, Rawagempol dan lain-lain.
Keberadaan daerah Karawang telah dikenal sejak Kerajaan Pajajaran yang berpusat di daerah Bogor. Karena Karawang pada masa itu, merupakan jalur lalu lintas yang sangat penting untuk menghubungkan Kerajaan Pakuan Pajajaran denga Galuh Pakuan, yang Berpusat di Ciamis. Sumber lain menyebutkan, bahwa buku-buku Portugis (Tahun 1512 dan 1522) menerangkan bahwa : Pelabuhan-pelabuhan penting dari kerajaan Pajajaran adalah : “ CARAVAN “ sekitar muara Citarum”, Yang disebut CARAVAN, dalam sumber tadi adalah daerah Karawang, yang memang terletak sekitar Sungai Citarum.
Sejak dahulukala, bila orang-orang yang bepergian akan melewati daerah-daerah rawa, untuk keamanan, mereka pergi berkafilah-kafilah dengan menggunakan hewan seperti Kuda, Sapi, Kerbau atau, Keledai. Demikian pula halnya yang mungkin terjadi pada zaman dahulu, kesatuan-kesatuan kafilah dalam bahasa Portugis disebut “ CARAVAN ” yang berada disekitar muara Citarum sampai menjorok agak ke pedalaman sehingga dikenal dengan sebutan “ CARAVAN “ yang kemudian berubah menjadi Karawang. Dari Pakuan Pajajaran ada sebuah jalan yang dapat melalui Cileungsi atau Cibarusah, Warunggede, Tanjungpura, Karawang, Cikao, Purwakarta, Rajagaluh Talaga, Kawali, dan berpusat di kerajaan Galuh Pakuan di Ciamis dan Bojonggaluh.
Luas Kabupaten Karawang pada saat itu tidak sama dengan luas Kabupaten Karawang masa sekarang. Pada saat itu Kabupaten Karawang meliputi Bekasi, Subang, Purwakarta dan Karawang sendiri.
Setelah Kerajaan Pajajaran runtuh pada tahun 1579 M, pada tahun 1580, berdiri Kerajaan Sumedanglarang, sebagai penerus Kerajaan Pajajaran dengan Rajanya Prabu Geusan Ulun, Putera Ratu Pucuk Umum (Disebut juga Pangeran Istri) dengan Pangeran Santri Keturunan Sunan Gunung Jati dari Cirebon.
Kerajaan Islam Sumedanglarang pusat pemerintahannya di Dayeuhluhur dengan membawahi Sumedang, Galuh, Limbangan, Sukakerta dan Karawang. Pada tahun 1608 M, Prabu Geusan Ulum wafat digantikan oleh puteranya Ranggagempol Kusumahdinata, putera Prabu Geusam Ulum dari istrinya Harisbaya, keturunan Madura. Pada masa itu di Jawa Tengah telah berdiri Kerajaan Mataram dengan Rajanya Sultan Agung (1613-1645), Salah satu cita-cita Sultan Agung pada masa pemerintahannya adalah dapat menguasasi Pulau Jawa dan menguasai Kompeni (Belanda) dari Batavia.
Rangggempol Kusumahdinata sebagai Raja Sumedanglarang masih mempunyai hubungan keluarga dengan Sultan Agung dan mengajui kekuasaan mataram. Maka pada tahun 1620, Ranggagempol Kusumahdinata menghadap ke Mataram dan menyerahkan Kerajaan Sumdeanglarang dibawah naungan Kerajaan Mataram, Sejak itu Sumedanglarang dikenal dengan sebutan “PRAYANGAN”. Ranggagempol Kusumahdinata, oleh Sultan Agung diangkat menjadi Bupati Wadana untuk tanah Sunda dengan batas-batas wilayah disebelah Timur Kali Cipamali, sebelah Barat Kali Cisadane, dsebelah Utara Laut Jawa dan, disebelah Selatan Laut Kidul. Karena Kerajaan Sumedanglarang ada di bawah naungan Kerajaan Mataram, maka dengan sendirinya Karawang pun berada di bawah kekuasaan Mataram.
Pada Tahun 1624 Ranggagempol Kusumahdinata wafat; dimakamkan di Bembem Yogyakarta. Sebagai penggantinya Sultan Agung mengangkat Ranggagede, putra Prabu Geusan Ulun, dari istri Nyimas Gedeng Waru dari Sumedang, Ranggagempol II, putra Ranggagempol Kusumahdinata yang mestinya menerima Tahta Kerajaan. Merasa disisihkan dan sakit hati. Kemudian beliau berangkat ke Banten, untuk meminta bantuan Sultan Banten, agar dapat menaklukan Kerajaan Sumedanglarang. Dengan Imbalan apabila berhasil, maka seluruh wilayah kekuasaan Sumedanglarang akan diserahkan kepada Sultan Banten. Sejak itu Banyak tentara Banten yang dikirim ke Karawang terutama di sepanjang Sungai Citarum, di bawah pimpinan Pangeran Pager Agung, dengan bermarkas di Udug-udug.
Pengiriman bala tentara Banten ke Karawang, dilakukan Sultan Banten, bukan saja untuk memenuhi permintaan Ranggagempol II, tetapi merupakan awal usaha Banten untuk menguasai Karawang sebagai persiapan merebut kembali Pelabuhan Banten, yang telah dikuasai oleh Kompeni (Belanda) yaitu Pelabuhan Sunda Kelapa.
Masuknya tentara Banten ke Karawang beritanya telah sampai ke Mataram, pada tahun 1624 Sultan Agung mengutus Surengrono (Aria Wirasaba) dari Mojo Agung Jawa Timur, untuk berangkat ke Karawang dengan membawa 1000 prajurit dan keluarganya, dari Mataram melalui Banyumas dengan tujuan untuk membebaskan Karawang dari pengaruh Banten. Mempersiapkan logistik dengan membangun gudang-gudang beras dan meneliti rute penyerangan Mataram ke Batavia.
Di Banyumas, Aria Surengrono meninggalkan 300 prajurit dengan keluarganya untuk mempersiapkan Logistik dan penghubung ke Ibu kota Mataram. Dari Banyumas perjalanan dilanjutkan dengan melalui jalur utara melewato Tegal, Brebes, Cirebon, Indramayu dan Ciasem. Di Ciasem ditinggalkan lagi 400 prajurit dengan keluarganya, kemudian perjalanan dilanjutkan lagi ke Karawang.
Setibanya di Karawang, dengan sisa 300 prajurit dan keluarganya, Aria Surengrono, menduga bahwa tentara Banten yang bermarkas di udug-udug, mempunyai pertahanan yang sangat kuat, karena itu perlu di imbangi dengan kekuatan yang memadai pula.
Langkah awal yang dilakukan Surengrono membentuk 3 (Tiga) Desa yaitu desa Waringinpitu (Telukjambe), Parakan Sapi (di Kecamatan Pangkalan) yang kini telah terendam air Waduk Jatiluhur ) dan desa Adiarsa (sekarang termasuk di Kecamatan Karawang, pusat kekuatan di desa Waringipitu.
Karena jauh dan sulitnya hubungan antara Karawang dan Mataram, Aria Wirasaba belum sempat melaporkan tugas yang sedang dilaksanakan Sultan Agung. Keadaan ini menjadikan Sultan Agung mempunyai anggapan bahwa tugas yang diberikan kepada Aria Wirasaba gagal dilaksanakan.
Pengabdian Aria Wirasaba selanjutnya, lebih banyak diarahkan kepada misi berikutnya yaitu menjadikan Karawang menjadi “lumbung padi” sebagai persiapan rencana Sultan Agung menyerang Batavia, disamping mencetak prajurit perang.
Di desa Adiarsa, sangat menonjol sekali perjuangan keturunan Aria Wirasaba. Walaupun keturunan Aria Wirasaba oleh Belanda hanya dianggap sebagai patih di bawah kedudukan Bupati dari keturunan Singaperbangsa, tetapi ditinjau dari segi perjuangan melawan Belanda, pantas mendapat penghargaan dan penghormatan.
Karena perlawanannya terhadap Belanda, akhirnya Aria Wirasaba II ditangkap oleh Belanda dan ditembak mati di Batavia, Kuburannya ada di Manggadua, di dekat Makam Pangeran Jayakarta.
Putra Kedua Aria Wirasaba, yang bernama Sacanagara bergelar Aria Wirasaba III, berpendirian sama dengan Aria Wirasaba I dan II, tidk mau tunduk pada Belanda, serta tidak meninggalkan misi sesepuhnya, yaitu memajukan pertanian rakyat, irigasi dan syiar Islam.
Aria Wirasaba III meninggalkan kedudukannya sebagai patih, karena dirasakannya hanya menjadi jalur untuk menekan rakyatnya. Setelah wafat beliau dimakamkan di Kalipicung, termasuk desa Adiarsa sekarang.
KEMATIAN SINGAPERBANGSA
Kematian Singaperbangsa, juga lebih diakibatkan oleh salah tafsir Raden Trunojoyo Bupati Panarukan yang memberontak Pemerintahan Sunan Amangkurat I. Setelah Sultan Agung meninggal dalam usia 55 tahun Sunan Amangkurat I sebagai Putera Mahkota dilantik menjadi Raja di Mataram. Sebagai pengganti almarhum Ayahnya (Sultan Agung) Sunan Amangkurat I tidak seidiologi dengan perjuangan Ayahnya Sunan Amangkurat I sangat otoriter dan kejam terhadap rakyatnya.
Bahkan Istana Mataram dijadikan Mataram tempat untuk mengeksekusi sekitar 300 ulama. Karena dianggap sebagai pembangkang ulama-ulama pemimpin informal itu ditangkapi secara massal, termasuk Eyang dan Ayahnya Trunojoyoyang mati ditangan Sunan Amangkurat I.
Selama memerintah Mataram, Sunan Amangkurat I lebih berpihak kepada Kompeni, hal itu membuat rakyat Mataram marah besar. Tatkala Raden Trunojoyo memberontak bersama tentaranya yang dipimpin Natananggala, spontan mendapat dukungan dari semua pihak. Termasuk dari padepokan padepokan Islam Makasar, yang dipimpin Kraeng Galesung.
Trunojoyo seorang pemuda yang gagah dan berani, sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama, Pemerintahan Amangkurat I dapat diruntuhkan. Kota Plered, Jawa Tengah sebagai pusat Pemerintahan Mataram dapat dikuasai Trunojoyo. Sedangkan Sunan Amangkurat I melarikan diri menuju Batavia, meminta bantuan Belanda, namun baru sampai di Tegalarum (Tegal) Sunan Amangkurat I Meninggal. Namun sebelum meninggal, ia sempat melantik putranya yakni Amangkurat II.
Amangkurat II sebagai Raja Mataram, perjuangannya juga tidak sejalan denga Sultan Agung (Eyangnya), ia lebih cenderung meneruskan perjuangan ayahnya yakni Sunan Amangkurat I yang bekerjasama dengan Belanda, Ia tetap berusaha meminta bantuan Kompeni, Ia meloloskan diri ke Batavia lewat Laut Utara.
Sementara perjuangan Aria Wirasaba dan keturunannya, tetap konsisten terhadap perjuangan Sultan Agung terdahulu, bahwa Karawang dijadikan lahan Pertanian Padi untuk memenuhi logistik persiapan menyerang Batavia.
Namun Jika Masih ada sebagian generasi sekarang, masih mempertanyakan nasib Aria Wirasaba, sebab kalau mengacu kepada Pelat Kuning Kandang Sapi Besar, Pelantikan Wedana setingkat Bupati, antara Singaperbangsa dan Aria Wirasaba, dilantik secara bersamaan. Saat itu Singaperbangsa sebagai Bupati di Tanjungpura, sedangkan Aria Wirasaba Bupati Waringipitu. Tapi mengapa kini Aria Wirasaba tidak masuk catatan Administratif Pemerintah Daerah Kabupaten Karawang.
Perhatikan perkataan Hoofd-Regent (Bupati Kepala) dan Tweeden-Regent (Bupati Kedua) memang datang dari Belanda, yang menyatakan bahwa kedudukan Singaperbangsa lebih tinggi dari Aria Wirasaba. Sebaliknya kalau kita perhatikan sumber kekuasaan yang diterima kedua Bupati itu, yaitu Piagam Pelat Kuning Kandang Sapi Besar, yang ditulis Sultan Agung tanggal 10 bulan Mulud Tahun Alip, sama sekali tidak menyebut yang satu lebih tinggi dari lainnya “ Tapi dalam menyikapi hal ini, kita pun harus lebih arif dan bijaksana, karena setiap peristiwa memiliki situasi dan kondisi yang berbesa-beda itulah Sejarah “ (Sumber Suhud Hidayat Dalam Buku Sejarah Karawang Versi Peruri Halaman 42-51).
Demi menjaga keselamatan, Wilayah Kerajaan Mataram di sebelah Barat, pada tahun 1628 dan 1629 bala tentara kerajaan Mataram diperintahkan Sultan Agung untuk melakukan penyerangan terhadap VOC (Belanda) di Batavia Namun serangan ini gagal karena keadaan medan sangat berat berjangkitnya Malaria dan kekurangan persediaan makanan.
Dari kegagalan itu, Sultan Agung menetapkan daerah Karawang sebagai pusat Logistik, yang harus mempunyai pemerintahan sendiri dan langsung berada dibawah pengawasan Mataram, dan harus dipimpin oleh seorang pemimpin yang cakap dan ahli perang, mampu menggerakan masyarakat untuk membangun pesawahan, guna mendukung pengadaan logistic dalam rencana penyerangan kembali terhadap VOC (Belanda) di Batavia.
Pada tahun 1632, Sultan Agung mengutus kembali Wiraperbangsa dari Galuh dengan membawa 1000 prajurit dan keluarganya menuju Karawang tujuan pasukan yang dipimpin oleh Wiraperbangsa adalah membebaskan Karawang dari pengaruh Banten, mempersiapkan logistik sebagai bahan persiapan melakukan penyerangan kembali terhadap VOC (Belanda) di Batavia, sebagaimana halnya tugas yang diberikan kepada Aria Wirasaba yang telah dianggap gagal.
Tugas yang diberikan kepada Wiraperbangsa dapat dilaksanakan dengan baik dan hasilnya dilaporkan kepada Sultan Agung atas keberhasilannya, Wiraperbangsa oleh Sultan Agung dianugerahi jabatan Wedana (setingkat Bupati ) di Karawang dan diberi gelar Adipati Kertabumi III, serta diberi hadiah sebilah keris yang bernama “KAROSINJANG”.Setelah penganugerahan gelar tersebut yang dilakukan di Mataram, Wiraperbangsa bermaksud akan segera kembali ke Karawang, namun sebelumnya beliau singgah dulu ke Galuh, untuk menjenguk keluarganya. Atas takdir Ilahi beliau wafat di Galuh, jabatan Bupati di Karawang, dilanjutkan oleh putranya yang bernama Raden Singaperbangsa dengan gelar Adipati Kertabumi IV yang memerintah pada tahun 1633-1677, Tugas pokok yang diemban Raden Adipati Singaperbangsa, mengusir VOC (Belanda) dengan mendapat tambahan parjurit 2000 dan keluarganya, serta membangun pesawahan untuk mendukung Logistik kebutuhan perang.
Hal itu tersirat dalam piagam Pelat Kuning Kandang Sapi Gede yang bunyi lengkapnya adalah sebagai berikut : “ Panget Ingkang piagem kanjeng ing Ki Rangga gede ing Sumedang kagadehaken ing Si astrawardana. Mulane sun gadehi piagem, Sun Kongkon anggraksa kagengan dalem siti nagara agung, kilen wates Cipamingkis, wetan wates Cilamaya, serta kon anunggoni lumbung isine pun pari limang takes punjul tiga welas jait. Wodening pari sinambut dening Ki Singaperbangsa, basakalatan anggrawahani piagem, lagi lampahipun kiayi yudhabangsa kaping kalih Ki Wangsa Taruna, ingkang potusan kanjeng dalem ambakta tata titi yang kalih ewu; dipunwadanahaken ing manira, Sasangpun katampi dipunprenaharen ing Waringipitu ian ing Tanjungpura, Anggraksa siti gung bongas kilen, Kala nulis piagem ing dina rebo tanggal ping sapuluh sasi mulud tahun alif. Kang anulis piagemmanira anggaprana titi “.
Terjemahan dalam Bahasa Indonesia :
“Peringatan piagam raja kepada Ki Ranggagede di Sumedang diserahkan kepada Si Astrawardana. Sebabnya maka saya serahi piagam ialah karena saya berikan tugas menjaga tanah negara agung milik raja. Di sebelah Barat berbatas Cipamingkis, disebelah Timur berbatas Cilamaya, serta saya tugaskan menunggu lumbung berisi padi lima takes lebih tiga belas jahit. Adapun padi tersebut diterima oleh Ki Singaperbangsa. Basakalatan yang menyaksikan piagam dan lagi Kyai Yudhabangsa bersama Ki Wangsataruna yang diutus oleh raja untuk pergi dengan membawa 2000 keluarga. Pimpinannya adalah Kiayi Singaperbangsa serta Ki Wirasaba. Sesudah piagam diterima kemudian mereka ditempatkan di Waringinpitu dan di Tanjungpura. Tugasnya adalah menjaga tanah negara agung di sebelah Barat.
Piagan ini ditulis pada hari Rabu tanggal 10 bulan mulud tahun alif. Yang menulis piagam ini ialah anggaprana, selesai.
Tanggal yang tercantum dalam piagam pelat kuningan kandang sapi gede ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Karawang berdasarkan hasil penelitian panitia sejarah yang dibentuk dengan Surat Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Karawang nomor : 170/PEM/H/SK/1968 tanggal 1 Juni 1968 yang telah mengadakan penelitian dari pengkajian terhadap tulisan :
Dr. Brandes dalam “ Tyds Taal-land En Volkenkunde “ XXVIII Halaman 352,355, menetapkan tahun 1633;
Dr. R Asikin Wijayakusumah dalam ‘ Tyds Taal-land En Volkenkunde “ XXVIII 1937 AFL, 2 halaman 188-200 (Tyds Batavissc Genot Schap DL.77, 1037 halaman 178-205) menetapkan tahun 1633;
Batu nisan makam panembahan Kiyai Singaperbangsa di Manggungjaya Kecamatan Cilamaya tertulis huruf latin 1633-1677;
Babad Karawang yang ditulis oleh Mas Sutakarya menulis tahun 1633.
Hasil Penelitian dan pengkajian panitia tersebut menetapkan bahwa hari jadi Kabupaten Karawang pada tanggal 10 rabi’ul awal tahun 1043 H, atau bertepatan dengan tanggal 14 September 1633 M atau Rabu tanggak 10 Mulud 1555 tahun jawa/saka.